EntAlphY

Icon

sebuah rekreasi dari timur jauh

Kita??

Sungguh, Indonesia tu memang negara yang sangat buesarrr… Saya jadi semakin inspired bahwa Indonesia memang banyak sekali suku budaya, kekayaan alam dan sumber daya manusia. Saya sudah merasakan gimana hidup di Jayapura dan kini saya hidup di Makassar, Center of Indonesia.

Banyak budaya Makassar yang menarik, termasuk kalo pas denger-denger teman atau orang-orang ngomong, terdengar unik. Seringnya ada partikel ikutan yang biasanya disingkat : JI MI KI DI dll, banyak partikel unik dan logat pengucapannya juga unik.. Saya sendiri msudah dua bulan belum menemukan formula yang pas kapa memakai “ji” kapan “mi”… seringnya dengar teman bilan “Cocok Mi…”, hehe.

Pernah ada pengalaman lucu dari istri saya waktu di bandra Hassanudin, waktu itu pas barang-barang bawaan diperiksa dengan scanner. Ada satu ibu lain mau ambil tas koper punya istri saya (maklum tasnya pasaran, jadinya mirip-mirip). Langsung saja istri saya nyeletuk “ Ini tas KITA..”, trus anehnya si ibu terus saja mau membawa tas istri saya, sekali lagi istri saya bilang ke ibu itu “Ini tas KITA ibu..”.. Si ibu jadi agak kebingungan, dan tuing..istri saya baru nyadar kalau KITA di Makassar bisa berartu ANDA secara halus…. waaaah…..hehe 

Filed under: Macanang Poenja

One Response

  1. matahari mengatakan:

    jangankan ngomong ke orang Makassar, Pak. kalo Istri Mas Anang ngomong “Ini tas kita” ke saya, saya juga bakal mengernyit heran.

    menurut kbbi:
    ka·mi pron 1 yg berbicara bersama dng orang lain (tidak termasuk yg diajak berbicara); yg menulis atas nama kelompok, tidak termasuk pembaca; 2 yg berbicara (digunakan oleh orang besar, msl raja); yg menulis (digunakan oleh penulis)

    ki·ta pron 1 pronomina persona pertama jamak, yg berbicara bersama dng orang lain termasuk yg diajak bicara; 2 cak saya;

    itulah kenapa proklamasi bilang “kami bangsa Indonesia” karena tidak mengajak Belanda ato Jepang dalam deklarasi kemerdekaan.

    dalam bahasa inggris, memang “kita” dan “kami” terbatas dengan “we”. jadi, kalo punya sesuatu yg lebih, kenapa harus mengurangi kekayaan bahasa sendiri?

    cheers!

Leave a Reply