Kalau di sekolah yang dulu, pelajaran sejarah menghafalkan tahun, pelaku sejarah dan peristiwa. Kalau di sekolahnya sekarang justru ditanya, gimana jika misalnya sejarah berjalan tidak seperti yang telah terjadi, misalnya Pangeran Diponegoro nggak melawan Belanda, akan ada banyak alternatif jawaban.
(cerita seorang bapak, tentang anaknya yang dulunya sekolah di sekolah negeri, sekarang di sekolah internasional)
Kemudian si bapak bercerita kalau di sekolah internasional banyak diarahkan pada kegiatan yang memicu kreatifitas, seperti menulis. Beda sama sekolah-sekolah kita, katanya, yang justru banyak hafalannya.
Tapi jangan dibilang dunia pendidikan kita kurang kreatif, tempat belajar mengajarnya bisa di mana-mana, mulai di bawah pohon, di bawah jembatan, di lapangan, di tenda, dan masih banyak alternatif lain yang nggak melulu di ruangan (apalagi ruangan ber-AC, manja banget, dan gak mendidik untuk tough), he..
Hmm,..


Mei 5, 2008 pukul 2:13 pm |
Setiap lembaga pendidikan… punya “andalan” untuk mendidik anak bangsa…
Ada yang menawarkan… kreatifitas..
Ada yang menawarkan… kemewahan
Ada yang menawarkan ketekunan
dsbnya…
Tugas orang tua… mengamati, menganalisa dan mengambil keputusan sekolah mana yang terbaik untuk anaknya… (dengan kemampuan ekonomi keluarga juga tentunya)
Disitulah… akan dididik anak-anak kita mencapai… “andalan sekolah” tersebut….
Jadi… jangan ragu untuk memilih… yang terbaik
Mei 6, 2008 pukul 10:50 pm |
Menulis, berimajinasi, dan menceritakan kembali. Itu memang lebih kreatif dibandingkan hanya menghafal dan membaca saja.
Mei 22, 2008 pukul 8:04 am |
belajar apa sekolah..
sekolah belum tentu belajar..
tapi belajar, bisa tanpa sekolah…
Mei 26, 2008 pukul 12:06 pm |
Masing-masing Gayanya Bro……
Mei 29, 2008 pukul 10:44 am |
wah wah wah… kritikan pedas juga nih….
belajar menurutku adalah dari sesuatu yang gak tahu menjadi sesuatu yang tahu…. trus mengetahui dari sesuatu yang salah menjadi sesuatu yang benar… dan sebaliknya….
Juni 1, 2008 pukul 11:19 pm |
weleh.. weleh..
namanya juga beda negara.. beda kebutuhan.. beda pemahaman,, beda pola pikir juga.. makanya jadi beda-beda gitu..
tapi intinya tetap meraih ilmu juga kan.. hanya saja cara dan materi yang ditonjolkan saj yang berbeda..
Juni 4, 2008 pukul 4:04 pm |
meskipun sma saya bukan di luar negeri, di yogya, tetapi sudah dibiasakan untuk analisa. sayangnya, pas semacam UAN, yang keluar ya tetep yang harus dihapalkan je…
Agustus 24, 2008 pukul 11:15 pm |
setuju….tapi memang bener sih menulis itu lebih penting dari menghapal. Menulis kan saripati dari hapalan kita. setidaknya begitu menurut sy heheeh sori kalau salah yah