Di dekat bunderan dan bloulevard di sebuah perguruan tinggi negeri di bilangan Bulaksumur Jogja, pagi2 saya sarapan dengan batagor. Sendirian sambil ngingat2 masa2 dulu.
Jalan-jalan, gedung2, toko2, belokan2, jalan2 pintas antar fakultas (maklum pejalan kaki), pohon2, bus2, seakan baru sebentar aku meninggalkan kampus. Kayaknya barusan aja aku jalan tergesa2 di siang bolong dari Teknik ke Balairung untuk sekedar liat ada pengumuman lowongan kerja. Atau lebih jauh lagi sore-sore sering main bola di lapangan depan Ghra Sabha. Lebih jauh lagi suatu sore, di gang Kinanthi Jalan Kaliurang, aku dari rumah membawa formulir UMPTN yang field jurusannya masih kosong, yang baru beberapa detik sebelum dikumpulin baru aku isi jurusannya Teknik Kimia. (Betapa satu detik bisa sangat menentukan)
Dahsyat, rasa sepi mengalahkan tawa canda sepasang mahasiswa-mahasiswi di meja sebelah. Mesin waktu mencoba menyedotku ke masa silam, ke bebeberapa tahun yang lalu. Namun mesin waktu gagal, mungkin berat badanku dari waktu itu udah naik beberapa kilo dan mesinnya gak kuat, he he.. Aku kemudian hanya terlempar dalam sepi, dengan batagor yang baru aku makan separo.
Siangnya aku bertemu seorang sahabat lama yang sebelumnya sudah janjian. Pertemuan biasa pada awalnya, tapi memang mungkin takdirnya, kemudian menjadi pertemuan yang luar biasa. Hal yang selama ini serasa belum saatnya untuk dibicarakan waktu itu jadi temanya. Kalo memang sudah saatnya terjadi ya terjadilah.
Suasana sepi dari bunderan sudah terobati.
Mesin waktu bekerja lagi. Lorongnya kini terbuka, to the future. Di ujung lorong jauh di sana aku melihat seberkas cahaya! Nggak lupa kuajak serta sahabatku itu, ingin rasanya langsung pergi menembus lorong waktu itu, menuju ke sana.
Tapi musti sabar, nggak perlu buru2, kalo nggak mau tersesat di ujung lorong waktu. Harus sabar, satu-satu, ada stepnya.
Semoga nati sampai di sana..
Filed under: Tak Berkategori , Jalan-jalan, Relationship
Semoga selamat sampai tujuan mas
oya, saya nge-link blog-nya mas ya
Mengenang masa lalu? Yogya selalu indah untuk dikenang.
Kemana lorong waktu akan sampai? Tiada satupun yang tahu, hanya bisa berharap semoga tujuan tadi merupakan yang terbaik bagi kita.
Mau bilang Universitas Gadjah Mada aja malu-malu Nang
UGM mesti
tukang batagornya msh ada gak ya?
mangkanya cari mertua wong yogya seperti saya….jika kangen dgn that town tinggal pura-puranya ngunjungi mertua….khan beres….istri juga senang hingga gak pelit ngeluarin duitnya….
Lagi bernostalgia ya Mas?
Sampai melakukan aksi napak tilas ga tuch?
Gang Kinanti?
wow saya sering nginep di kost an temen tuh..
Setelah tinggalkan Jogya beberapa tahun, saya pingin makan lotek langganan semasa Mahasiswa dulu, di dekat hotel Mutiara. Nyam nyam santap lotek pesanan seperti dulu, Eh ternyata aroma kencurnya tajam betul. Jujur saja, lidah ini tidak merasakan seenak dulu lagi, tapi lotek ini yang ngantar saya lulus kuliah dan dapat hidup seperti sekarang ini, maka rasa lotek berubah menjadi rasa sukur. Terima kasih Tuhan.
@prasso
amiin..amiin..
ngelink silakan sekali mas, punya mas prasso udah tak link
@edratna
nggak ada yang tahu bu, cuma bisa berusaha yang terbaik
@Dee
gak malu Dee, biar dramatis aja..hehe
@rezco
yup, masih banyak mas
@thewanderer79
waks pengalaman pribadi ya mas
@deking
yups mas. gak sempet sih waktu mefetz
@agusampurno
kosan cowok juga kan mas,..hehehe peace!
@sugiarto sumas
lotek kenangan ya mas
wah, dari biasa jadi luar biasa. jadian yah, oom ..
kayaknya kok berhubungan dengan postingan tentang kemajuan cinta
saepertinya ini adalah sebuah titik balik dari seorang Anang !!!!
Yogyakarta dengan segala isinya memang sangat mengesankan ya Nang ?
he he he