Pas ikut liat pengisian pelumas curah ke dalam IBC (Isolated Bulk Container) bersama dengan customer, tiba-tiba saya disuruh oleh seorang rekan untuk cek suhu kontainer. Cukup saya rasakan pake tangan telanjang, suhu kamar (nggak dingin nggak panas). Suhu yang ideal buat storage, pikir saya.
Karena pelumas langsung dialirkan dari bending tank ada kemungkinan pelumas dalam kondisi panas atau hangat. Tapi mungkin karena proses blending sudah berhenti beberapa waktu, suhu pelumas jadi normal kembali.
Saya kemudian ditanya rekan yang minta saya cek suhu IBC tadi, kenapa perlu cek suhu. Saya jawab, karena kalo pada suhu tinggi ada kemungkinan cairan dalam IBC nggak stabil, konndisi yang nggak bagus untuk storage.
Tapi ternyata yang lebih penting bukan itu. Yang penting adalah kaitan atara volume dan suhu.
Semakin tinggi suhu cairan, semakin besar volumenya. Jadi kalo saat diisikan ke IBC, pelumas dalam keadaan panas, maka nanti pas sampe gudang customer menjadi dingin dan volumenya menyusut, nggak sesuai takaran semula.
Ooo, saya baru sadar waktu itu, tentang hubungan volume dan suhu. Kalo misalnya customer tau volume berkurang bisa marah.
Sama halnya dengan pengisian BBM di SPBU, kalo mau lebih untung sebenarnya ngisi BBM pas tengah malem/dini hari (dengan asumsi suhu cairan rendah), akan mendapatkan volume yang lebih besar jika diukur pada suhu rata2 harian.
Filed under: Tak Berkategori , Cari Tahu, Obrolan, On The Job

...punya sodara