Iya sih, cowok garang pun bisa nangis. Penah aku liat cowok sangar nangis pas liat pilem bollywood, Kuce Kuce Hotahe yang legendaris itu. :girn: . Tapi maksudku bukan itu.
Boleh saja pas mudanya gagah perkasa, tampan, koyo lan idolane kenyo (kaya dan idola wanita, lagu Kembang Jagung nya Genk Kobra), tapi kadang kenyataan dan jalan takdir di kemudian hari bisa membuat lelaki tertunduk, berlutut dan menangis.
Di negri Warajeyanggeng hari itu sedang rame-ramenya, orang keluar rumah merayakan sebuah hari yang suci.
Anak2 dengan semangat bersilaturahmi ke tetangga2 karena biasanya ada tambahan rejeki buat mereka, mbak2 dandan dengan cantiknya siapa tau habis perayaan ketemu jejaka yang cocok dan langsung dikawinkan, begitu sebaliknya si cowok. Ibu dan Bapak, sumringah disungkemi anak cucu mereka, wis pokoke meriah ta lah..
Namun di padepokan Jobobinoyo terjadi kemuraman, keluarga padepokan dilanda musibah, kepala keluarga mereka dilanda sakit aneh yang menyebabkan kelumpuhan separoh tubuhnya..bicaranya juga jadi nggak jelas, kasihan.
Keluarganya pontang-panting mengusahakan dana untuk menebus obat.
Ditambah lagi pikiran berat, anak perempuannya, Ni Deblong, melanglang buana ke negri KuanChan, dan menantu perempuannya yang juga pergi mencari nafkan buat keluarga. Sedangkan anak lelakinya, Raden Yudhokartiko, hanya bisa di rumah saja tanpa pekerjaan tetap, momong anak lakinya yang masih kecil.
Nggak tau, dulu keluarga padepokan terlihat harmonis dan damai, tetapi belakangan seeprtinya cobaan menerpa mereka. Ada selentingan dari warga kampung bahawa Ki Jobobinoyo, dulu kurang bisa mejaga pandangannya, namun yang namanya gosip apa ya bisa dipegang.
Hari itu banyak yang mengunjungi Ki Jobobinoyo, namun beliau hanya bisa duduk dan menangis saat ada yang menyalaminya, haru, tangisan yang dalam.
Reality bites!
Filed under: Tak Berkategori , Imajinasi, Obrolan, Wong Ndeso


...punya sodara