Mungkin dulu daerah Gambir, Jakarta Pusat adalah daerah rimbun, bersemak2 dan penuh pohon gambir..
Bagi yang belum tahu, gambir adalah sejenis tanaman (saya juga baru tahu..)
Hasil jerih payah yang memuaskan mungkin belum nomplok sama para petani gambir di Sumatera Barat. Mereka dengan bersusah payah seharian, mulai memanen gambir basah, merebus, menyaring ekstrak gambir, kemudian mencetak dan mengeringkan padatan gambir, hasil yang didapat hanya mendapatkan rupiah di bawah 15 ribuan per kilo.
Bisnis gambir gak menarik?
Nggak juga. Gambir dari Sumbar yang diekspor ke India, sama Vijay atau Raj (tipikal nama India, hehe) diproses untuk dipisahkan menjadi bahan yang lebih ekonomis, tannin dan kasein. Harga jual ke pasar internasional untuk produk akhir ini bisa sampai 120-150 ribu per kilo. Hampir 10 kalinya gambir setengah jadi Sumbar yang belum diproses. Maka dari hasil gambir ini lahirlah ratusan film bollywood per bulannya, hehehe
Solusinya? Kalo bagi saya yang gak patio dong dengan gambir
- Diteliti lah gimana sih mroses gambir biar jadi tannin dan kasein, biar value nya lebih besar, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan pemda, pajak lebih banyak.. kalo perlu panggil mahasiswa comblang yang butuh kerjaan.. tapi aku yakin orang LIPI atau BPPT, atau universitas2 udah menelitinya.. (yakin kan gak perlu data, hehe)
- Patenkan prosesnya, sapa tau orang India setelah puas menikmati manisnya keuntungan gambir, jadi lupa mematenkan prosesnya.. Kalo bisa dengan kualitas yang lebih baik dari India.
- Bikin pabriknya, ini juga rejeki buat perusahaan engineering & construction lokal, menyerap tenaga kerja lokal
- Ciptakan jalur distribusi dan pemasaran baru, saingan karo India kalo perlu. Katanya sih di India gak ada pohon gambir, kalo semua kita proses, kita bakal jadi the world major exportir of gambir..
Tapi kayaknya, eh sekali lagi kayaknya, bebapa langkah diatas sudah pernah dipikirkan dan dicoba diusahakan oleh beberapa pihak, tapi kenyataanya masih belum terlaksana sampai sekarang.
Nggak tau kenapa, tapi ayolah..
Sumber :
- Liputan tentang petani gambir di TV (Metro kalo gak salah, nontonnya siang2 sambil setengah sadar)
- Gambar gambir
Filed under: Tak Berkategori , Teknik Kimia, Wong Ndeso
kebetulan saya juga melihat tayangan gambir itu .. di metrotv jam 11.30
saya orang IPB, jurusan manajemen agribisnis (dulu, sekarang dah lulus). Jujur saya juga miris akan hal tsb, sampai sekarang saya berusaha nyari data dan nyari orang2 kimia IPB yg bisa saya kontak untuk juga mempertanyakan hal tsb???
yaahhhh, emang sih kayaknya juga kurang membantu apa2, krn bgmnpun Pemda sumbar yah yang pegang peranan penting.Soale kayak e’ masalahnya kebijakan pemda sana
kata petani di metro tv, sudah hampir 15 th mereka effort cari investor ….
LOH ????
pemdanya kmn ??? pemerintah kmn ??? peluang bisnis sebegitu bagus kok yaaa , gak mgkn kali ngaak ya gak ada yg mau nyemplung. Gaet aja pengusaha keturunan tiong hoa (notabene otak mereka kan otak bisnis bgt tuh)
Hemmm…. kmrn saya baru ikut join semacam kelompok an orang2 IPB di internet (orang luar juga boleh ikut nimbrung)saya ingin nulis tentang gambir ini, dan penegn tahu orang teknologi pertanian, budidaya pertanian sama kimia nya comment apa yahhh???
Hmmmm orang2 IPB nya pada kerja kantoran siihhh (kayak saya ini salah satunya) =( hiks
Wah,boleh jg niy.. Mw d0nk iktan,tp sy msh kul d D3 farms.
Ini sy lg cr pnlitian gambir thd bakteri S.mutans.. Kali ja nant bs dbwt 0bt kumur gambir..hehe
@oe-mee
ayo.. mbak umi aja yang mulai..
@evie
siapa tahu,.. ayo siapa yang mau neliti.. asal abis kumur mulut ga merah2, hehe
saya sepagai mahsiswa juga ikut prihatin masa’ kita kita yang susah-sausah bikin gambir eh orang india cuma nikmatin yang enak-enak aja.kayaknya bangsa kita goblok banget ya….seharusnya bupati 50 cari solusi dong,sayang bupati 50 kota yang sekarang lebih doyan keluar daerah, katanya sih mau rapel eh ternyata lagi jual gambir ke india, dasar bangsat
[...] order untuk jemput mantan pacar di gambir pada sore harinya. karena bermotor dan tidak masuk stasiun saya berkeliling dengan anak melewati [...]
Saya sebagai putra kapur IX ( penghasil gambir terbesar di indonesia ) kenapa masalah harga gambir tidak bisa dikontrol oleh dinas perdagangan ,pada hal gambir itu komoditi export. Nampaknya harga seenak para tengkulak. Naik turun harga terserah para toke gambir. Bapak bapak yg berkepentingan mohon dipikiri jalankeluarnya. sebagai usul kenapa nggak dibikin aja suatu badan atau perusahaan (milik Pemda) yang bersedia membeli gambir masyarakat > Bagi perusahaan yang berminat bisnis gambir saya bersedia membantu.
Buat para mahasiswa , tolong juga dipikirin cara mengolah daun gambir yang lebih sederhana tapai hasilnya lebih banyak, okey
@ady boz
yup, sayang banget kita hanya bisa jual bahan baku murah, sedangkan negara lain yang menikmati keuntungan berlipat ganda
@deion
ayo, siapa yang pengen berinvestasi gambir…
pemda jangan mempersulit ya…
@Desion
ayuk, kesempatan buat penelitian tuh..
bagus bro.. emang lulusan universitas kita ngk ada gunanya kali yaa… kalo semua kerja kantoran mestinya gelarnya di tanggalin aja ngk ada manfaatnya . khususnya sarjana di bidang pertanian..akhhh mestinya fakultas pertanian di ajarin ke wirausahaan biar trampil di bidang pertanian..
hi..saya dr payakumbuah, salah satu penghasil gambir,saat ini saya lagi bikin tesis yang judulnya tentang strategi pengembangan agrondustri dan enigkatan nilai tambah gambir..saya berharap penelitian ini bisa menarik investor ntuk mau berinvestasi antix sekalian untukenciptakan lapangan kerja buat saya nantix kl dah lulus hehehe…
kebtulan saya adalah putra dari kec.pangkalan kt.baru,salah satu daerah penghasil gambir di sumbar,melihat nasib petani gambir sih saya sangat prihatin sekali karena mereka yang bersusah payah memproduksi gambir eh,malah orang india yang mendapat senagnya.tapi,,,karena ulah mereka juga sih,harga gambir sering anjlok,knp tidak,banyak yang diantara mereka dalam memproduksi getah gambir ini dengan cara memberi campuran bahan lain seperti pupuk,tanah,dan bahkan ada juga yang mencampurnya dengan semen.kata mereka sih,”bia batambah barek da”(biar bertambah berat).tapiii,,kalau dinilai,mereka ga salah juga sih,kenapa tidak? harga gambir yang murni dengan harga gambir yang pakai campuran tersebut ga jauh beda,jadi buat apa mereka cape2 memproduksi gambir yang murni kalau ternyata hasilnya lebih sedikit dari gambir yang pakai campuran,ya ga?
saran saya buat pemerintah sumatra barat yang terhormat,”tolong perjuangkan harga gambir tersebut,biar masyarakat kita sejahtera,kalau harga gambir mahal,daya beli masyarakat terhadap kebutuhan akan meningkat,sehingga roda ekonomi sumbar akan berjalan dengan sangat baik”
saya sebagai mahasiswa ikut prihatin atas naik turunnya harga gambir…..pa lagi diRaiu….tambah ongkos kirim tu hehehehee….padahal mengolahnya tidak semudah yang qita bayangkan………..perlu keahlian khusus lo..
doakan ya mudah2an penelitian q tentang gambir berhasil….
dan metode pengolahan yang saya teliti bisa digunakan oleh petani dan menghasilkan mutu gambir yang lebih baik.
kami dari putra putri yang Menghasilkan Gambir terbesar di dunia sangat bangga dengan banyaknya komentar yang masuk tentang gambir ini, kami harap, gambir akan menjadi ekspor yang begitu berharga bagi semua pihak,,
terutama kapur IX, awal april kmaren alhamdulillah harga gambir sudah membaik, berkisar antar 35rib per kilogram..