Kalau misalnya saya bisa nyuruh es teh untuk konsentrasi, esteh itu akan menghangatkan diri, es batunya meleleh satu per satu menjadi cair semua menjadi teh cair. Teh cair terus memanaskan diri sampai banyak air yang menguap, mungkin sampai tinggal separonya. Setelah saya cicipi lagi, es teh yang tadinya dingin tadi menjadi anget, dan setelah saya cicipi rasanya menjadi jauh lebih manis.
Konsentrasi, gak jauh2 dari pelarut dan materi yang dilarutkan, adalah seberapa banyak materi terlarut pada pelarut. Seberapa kenthel, atau seberapa merah, atau seberapa harum, atau seberapa lengket, tergantung apa yang larut.
Otak, kalau boleh, saya ibaratkan seperti gelas. ‘Pikiran’ adalah pelarutnya, dan ‘hal2 yang dipikirkan’ jadi materi terlarutnya. Hal2 yang dipikirkan bisa jadi kapan pulang, gimana biar cepet gede, kok aku beruntung banget, gimana caranya dll apasajalah, campur aduk terlarut dalam pikiran dalam otak.
Misale, anak SD yang dilihat dari depan sama gurunya menerawan jauh ke ‘dunia lain’, bisa dibilang tidak konsentrasi pada pelajaran, tapi mungkin sebenernya sedang berkonsentrasi pada hal lain.
Tapi konsentasi pada apa, seberapa besar konsentrasinya tergantung.
Ada materi pikiran yang cepet banget menyita konsentrasi dan tahan lama, ada konsentrasi materi pikiran tertentu yang cepat ‘larut’. Ada materi pikiran yang bisa dengan mudah kita kendalikan konsentrasinya, ada yang susah. Materi pikiran yang konsentrasinya terlalu besar akan bisa mengendap dan jadi ‘kerak’ yang sulit hilang.
Jadi mungkin, mungkin lho, otak kita setiap saat selalu berkonsentrasi.
Filed under: Tak Berkategori
cuit…cuit….. ni orang pada banyak yang gak konsentrasi ye..?? tapi bner banget loh! ada suplemen may be…???