Depan rumah kami di jalan Alaudin cukup luas, tapi rasanya agak kurang nyaman, di hati kurang tentrem kalo ga banyak tanemannya.. Mungkin darah yang di bawa nenek moyang yang biasa hidup dikelilingi vegetasi yang melimpah ruah masih tersisa dalam diriku..
Oken intinya, kami sebagai keluarga baru di Makassar ingin berkebun. Biar bukan rumah sendiri kami ingin menjadikan rumah ini se asri (bukan Asri “Aci” Wulandari BPS 2007, hehehe) mungkin..
Gimana caranya?
Memang sebelumnya, pas balik jogja sempat dibawain sama Ibuk Jogja tanaman yang masih kecil, rencananya dikembangbiakkan di Makassar. Dan sekarang sudah mulai berkembang..! Ke depan tanaman-tanaman ini akan dikembangkan terus, anak-anaknya akan dipisahkan ke pot-pot yang masih baru..
Tanaman di belakan OK, tinggal bagaimana memanfaatkan lahan kosong di depan yang gersang untuk ditanami.
Faktor tanah memang kurang mendukung, tanahnya berpasir dan banyak kerikil dan material bangunan semacam pecahan semen.. Perlu pemilihan tanaman yang tepat. Mungkin kaktus bisa tumbuh subur di tanah berpasir??? Masih dipelajari..
Jenis tanaman buah ga luput dari pengamatan kami, pohon belimbing dan mangga sempat jadi bahan diskusi panjang lebar kandidat tanaman penghuni halaman depan..
Waktu yang kadang justeru jadi masalah.. Weekdays yang penuh, jarang pulang sore bikin aktifitas berkebun ga bisa full, cuma hari sabtu or minggu aja. Jenis tanaman perlu disesuaikan dengan karakteristik tanaman yang ga butuh banyak perawatan yang njlimet, istilahnya “tahan banting”..
Kami dah beli pot, tinggal palem kecil impian itu yang belum terbeli, mungkin besok sore.
Berkebun, kegiatan yang bagus, bisa mengerem laju kehidupan yang selalu ingin cepat dan instan. Berkebun membutuhkan kesabaran, penuh proses. Pernahkah anda memperhatikan pohon mangga di depan rumah, mulai dia kecil sampai berbunga kemudian berbuah?